1. Pengertian Teknologi
Jawab : Teknologi
adalah cara melakukan sesuatu untuk memenuhi kebutuhan manusia dengan
bantuan alat dan akal, sehingga seakan-akan memperpanjang, memperkuat,
atau mebuat lebih ampuh anggota tubuh, pancaindra, dan otak manusia.
2. Ciri-Ciri Masyarakat menurut
Alfin Toffler
Masyarakat Pertanian
- Hidup berpindah-pindah
- Menggunakan Energi dari alam
(matahari,otot binatang,angin dan air)
- Kedudukan masyarakatnya sebagai
Produsen juga Konsumen
- Gelombang pembaharuan manusia
menentukan dan menerapkan teknologi pertanian
3. Alvin Tofler
membagi perkembangan peradaban manusia itu menjadi 3 gelombag, yaitu:
1. Gelombang
1 masyarakat agraris (pertanian) (8000 SM-1700 Masehi)
Pada fase
ini, masyarakat mulai mengenal tekhnologi pertanian, manusia mulai berubah,
dari yang sebelumnya hanya mengandalkan sumberdaya alam secara langsung dan di
manfaatkan untuk memenuhi kebutuhan hidup. Kemudian sudah berubah untuk
memelihara dan memproduksi sendiri sumber makanan dan pemenuhan kebutuhan
melalui proses berternak dan bercocok tanam.
Lebih rinci,
masyarakat pada gelombang ini di lukis sebagai berikut:
1. Energi
yang diandalkan adalah energi otot, anggapannya energi ini tak akan habis.
2. Tenaga
utama adalah manusia dan binatang.
3. Manusia
berada pada era pertanian awal.
4. Mobilitas
manusia dan informasi berjalan sangat lamban.
5.
Pendapatan perkapita sangat rendah, karena hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan
beberapa hari saja, dan sangat tergantung pada alam dan binatang.
6. Homo
homini lupus – siapa yang terkuat dialah yang menang (hukum rimba).
Proses
komunikasi yang terjdi pada manusia yang hidup pada gelombang ini adalah proses
komunikasi interpersonal, dimana pesan hanya terjadi dari mulut kemulut dan
face to face (tatap muka).
Akan tetapi
gelombang ini sebenarnya bukanlah fase awal perkembangan tekhnologi komunikasi,
karena menurut Everett M. Rogers dalam bukunya Comunication technolgy (1986)
pada 22.000 Sebelum masehi manusia prasejarah telah memdokumentasikan setiap
peristiwa, peringatan maupun catatan-catatan penting yang mereka buat dalam
bentuk lukisanpada dinding bekas tempat tinggal mereka.
Tahun 4000
sebelum masehi, orang samaria bahkan sudah mulai menulis di tanah liat,
kemudian tekhnologi komunikasi yang juga telah di temukan seblum gelombang ini
adalah pada tahun 1401, Phi sheng di cina telah menemukan alat cetak sederhana
untuk mencetak buku. Dan pada tahun 1241 bahkan korea telah menemukan besi
sebagai pengganti tanah liat yang di gunakan untuk menulis. Dan pada tahun 1456
kitab suci gutenberg di cetak dengan cetakan besi.
2. Gelombang
2 Masyarakat industri (1700-1970)
Sifat
manusia yang serakah, merasa tidak puas dengan hasil produksi mereka selama ini
dalam bercocok tanam dan memanfaatkan sumberdaya alam, kemudian mencoba
memikirkan berbagai alternatif cara untuk memperoleh keuntungan yang banyak
dari pengelolaan sumberdaya yang telah di sediakan oleh alam. Hingga kemudian
membuat manusia yang hidup gelombang ini di sebut juga sebagai manusia ekonomi.
Perubahan
tekhnologi dan proses komunikasi yang paling nyata adalah di tandai dengan
semakin cepatnya mobilitas manusia, barang maupun informasi. Tidak hanya
berbatas negara, tetapi juga terjadi antar negara dan benua. Pada gelombang ini
pula terjadi banyak perang dan penjajahan guna mendapatkan sumberdaya alam sebanyak-banyaknya
untuk mendukung proses industri.
Selanjutnya,
surat kabar yang sebelumnya di tulis dengan tangan dengan jumlah sekitar 100
lembar sekali terbit, maka dengan menggunakan mesin cetak silinder, jumlah
dapat ditingkatkan menjadi 300 hingga 400 eksemplar perjam. Bahkan jika
menggunakan mesin off sett dapat ditingkatkan menjadi 8000-10.000
eksemplar/jam. Kemudian bila menggunakan mesin web rotasi offset sekali
mencetak bisa mencapai 20.000-60.000eksemplar/jam. Produksi besar-besaran ini
juga kemudian dilakukan untuk diperdagangkan.
Secara
rinci, ciri-ciri masyarakat pada gelombang ini di tandai dengan hal-hal
berikut:
1. Tenaga
otot berganti menjadi tenaga mesin
2. Tenaga
mesin di dukung energi dan plankton (minyak, batubara dll)
3.
Penggunaan energy secara besar-besaran.
4. Mobilitas
manusia, barang dan informasi lebih cepat.
5.
Penjajahan untuk dijadikan cadangan sumber energy (Neokolonialisme) berkembang.
3. Gelombang
3 Masyarakat Informasi (1979-2000)
Sesungguhnya
peradaban manusia pada gelombang ini di awali denga ditemukannya transistor
oleh William Schokley dkk, pada tahun 1947. Hingga kemudian pada tahun 1967
integrated cirkuit/IC/CHIPS. Keberadaan IC/Chips inilah yang kemudian
mempengaruhi proses produksi barang-barang-barang elektronik secara
besar-besaran. Dan kemudian dapat di jual dengan harga yang relative murah,
atau oleh alvin toffler di sebut gejala massivasikasi.
Personal
komputer (home komputer) adalah satu produk yang di produk secara massivikasi
pada awal berkembangnya era ini, mengalami peningkatan pemakaian yang sangat
signifikant pada tahun 1960-1980 dari 10.000 menjadi 10 juta set. Dan enam
tahun kemudian menungkat menjadi 40 juta.
Beberapa
ciri yag dimiliki oleh masyarakat pada gelombang ini adalah sebagai berikut:
1. Mobilitas
informasi berjalan sangat cepat, dan menyebabkan tingkat efisiensi sangat
tinggi.
2. Mobilitas
manusia dan barang semakin meningkat.
3. Diperoleh
energi alternatif yang dapat di daur ulang.
4. Produktivitas
pangan semakin meningkat dengan penggunaan bio tekhnologi.
5. Industri
mekanik berubah menjadi industri program(perangkat lunak)
6.
Ditemukannya tekhnologi informasi dan data prosessing.
Peradaban
manusia gelombang 3 ini selanjutnya disebut juga sebagai masyarakat informasi,
karena peradaban inilah kemudian awal dari munculnya masyarakat yang sebagaian
besar anggotanya menjadikan informasi sebagai salah satu kebutuhan utama dalam
hidupnya.
Dan
gelombang ke tiga ini masih terus berlanjut hingga sekarang, bagaimana kita
lihat bahwa perkembagan tekhnologi informasi terus saja terjadi dari massa ke
massa. Baik itu tekhnologi yang bersifat fisik seperti handphone, komputer
maupun software, yang berupa berbagai aplikasi yag menyertai produk fisik maupun
yang berdiri sendiri seperti internet dan sebagainya.
Kita lihat
sekarang bagaimana tekhnologi-tekhnologi informasi itu di produksi secara
massivikasi. Dapat dijangkau bahkan dengan harga yang sangat murah. Sehingga
dengan mudahnya anak SD mudahnya dapat memiliki Handphone. Sedangkan beberapa
tekhnologi komunikasi da informasi yang pada awal perkembangan peradaban ini
masih di produk secara demassifikasi sekarang juga telah lebih mudah di akses.
Seperti
seperangkat audio televisi, satelit, dan lain-lainnya. sehingga dengan mudah
sekarang komunitas kecil dengan visi dan bentuk yang belum begitu jelaspun
dapat mempunyai stasiun radio sendiri. Sehingga tidak jarang di berbagai tempat
menjamurlah pertumbuhan radio dan televisi swasta. Belum lagi surat kabar,
internet centre (warnet) yang menyediakan layanan 24 jam.
Tekhnologi
yang sofwarepun tidak mau ketinggalan, bagaimana kemudian mereka berintegrasi
dengan berbagai tekhnologi informasi lainnya, seperti misalnya blackberry yang
menawarkan da menyediakan fasilitas dan fitur internet yang serba lengkap.
Belum lagi dengan beberapa handphone keluaran china yang di jual dengan murah
dan dapat di miliki siapa saja bahkan anak SD ataupun TK sekalipun memungkin
untuk memiliki HP yang juga telah menawarkan fitur untuk mengakses layanan
internet dimana saja.
Dan
providerpun tidak mau ketinggalan memanjakan masyarakat dengan berbagai produk
dan fasilitas yang memudahkan semua orang untuk mengakses informasi secepat
mungkin dimana dan kapanpun berada, dengan penawaran harga dan berbagai bonus
yang ditawarkan.
Belum lagi,
kehadiran handphone yang juga menyediakan fitur seperti televisi, dan radio
yang memudahkan penggunanya untuk dapat tetap menikmati informasi melalui radio
maupun televisi di manapun mereka berada hanya dengan menggunakan handphone
yang ada dalam genggaman mereka.
Peradaban
masyarakat, menjadi masyarakat informasi kemudian menciptakan berbagai macam
produk dan tekhnologi yang di buat dengan tujuan untuk memenuhi kebutuhan
manusia akan informasi yang aktual, cepat praktis. Kemudian menjadikan berbagai
media saling berintegrasi. Sehingga radio, sekarang sudah dapat di dengar
secara life streaming, dengan begitu tidak akan ada lagi batasan wilayah
jangkauan yang akan membatasi pendengar dengan radionya.
Sehingga
tidak jarang lagi, masyarakat amerika akan mendengarkan siaran radio di
bengkulu. Bahkan radio komunitas sekalipun. Surat kabarpun tidak mau
ketinggalan, merekapun melakukan proses intergrasi dengan tekhnologi internet,
melalui penerbitan media online. Dan internetpun sudah lebih terbuka dengan
menyediakan begitu banyak informasi apapun yang di butuhkan oleh masyarakat.
Dan produk-produk inilah yang kemudian kita sebut juga new media.
Kehadiran
new media, tentulah merupakan sebuah angin segar bagi kita semua, karena dengan
begitu setiap orang memiliki kesempatan untuk mendapatkan informasi kapanpun
dan dimanapun. Selain itu setiap orang juga dapat menyampaikan informasi apapun
kapanpun dan dimanapun mereka berada.
Setiap orang
memiliki kesempatan untuk menyampaikan berita, kritikan atau apapun untuk
menyampaikan aspirasinya melalui blog pribadi, share di web atau beberapa
layanan yang telah tersedida dan dapat di akses siapa saja di internet. Akan
tetapi, kehadiran new media ini kemudian juga membawa dampak negatif yang
meluas. Seperti banyak kita ketahui beberapa konflik antar personal terjadi
melalui perantara internet hingga kemudian meluas dan terjadi di dunia nyata.
Konflik-konflik antar suku, kelompok, agama, bahkan negarapun terjadi. dan
bahkan beberapa tahun belakangan ini banyak sekali tindak kejahatan yang kita
temui sebagai akibat dari internet dan fasilitas-fasilitas yang di sediakan
seperti facebook, twitter, blogger, hingga grup-grup diskusi yang menjamur da
muncul begitu saja. Tanpa kemudian ada yang mengatur dan menertibkan ini.
sehingga potensi terjadinya konflik semakin meluas dan menimbulkan efek domino.
Menyikapi hal tersebut, seyogyanya memang new media juga menyiapkan sistem da
mekanisme regulasi yang mengatur mekanisme dan penggunaan new media. Sehingga
kemudian konflik dan kejahatan pada proses penggunaan new media dapat di
minimalisir.
4. Laser, teknologi ‘usang’ yang sudah berusia 50 tahun kini jamak
digunakan di berbagai perangkat, mulai dari CD sampai ke pointer yang
biasa digunakan untuk presentasi. Kini, teknologi itu menghadapi
lawannya, yakni antilaser.
Perangkat antilaser akan mampu menangkap dan membatalkan sinar laser yang sudah dipancarkan.
Menurut
Douglas Stone, peneliti asal Yale University, Amerika Serikat, meski
perangkat seperti itu kemungkinan hanya cocok untuk film-film fiksi
ilmiah, namun dalam dunia nyata, penggunaan yang paling memungkinkan
dari teknologi antilaser adalah di dunia komputer, khususnya drive
optik.
“Ke depannya, cara kerja perangkat ini adalah seperti
memancarkan laser secara terbalik,” kata Stone, seperti dikutip dari
Phbeta, 30 Juli 2011.
Stone menyebutkan, meski laser membutuhkan
energi listrik dan memancarkan sinar dalam pita frekuensi yang cukup
sempit, antilaser yang diciptakannya mengambil sinar laser dan
mentransformasikannya menjadi energi panas. Akan tetapi energi ini juga
dapat dikonversikan menjadi energi listrik.
Laser konvensional,
yang ditemukan pada tahun 1960, menggunakan apa yang disebut dengan
‘gain medium’ misalnya material semikonduktor untuk membuat pancaran
gelombang cahaya yang fokus.
Adapun perangkat yang dibuat Stone
menggunakan silikon sebagai penyerap ‘loss medium’ yang menangkap
gelombang sinar itu yang akan membuatnya memantul-mantul hingga mereka
dikonversikan menjadi panas.
Dan meskipun teknologi yang
ditemukan Stone tampak menarik, antilaser yang ia buat tidaklah
ditujukan sebagai pelindung laser. “Ini merupakan cara untuk menyerap
laser. Berbeda dengan pistol laser yang jika ia digunakan untuk
membunuh, sinar lasernya tetap akan membunuh targetnya,” ucapnya.
Menurut
Stone, penggunaan yang paling memungkinkan untuk teknologinya adalah di
bidang komputer. “Komputer kinerja tinggi masa depan akan memiliki chip
hybrid,” ucapnya. “Bukannya memiliki chip dengan transistor dan
silikon, komputer masa depan akan menggunakan energi listrik dan
cahaya,” ucap Stone.
Stone menyebutkan, perangkat dengan
antilaser juga bisa digunakan sebagai sakelar optik yang bisa
dinyala-matikan kapanpun diinginkan.