1. Darwin Stevan Hutabarat
2. Khoriul Anwar
3. Muhammad Nazhar Nur
4. Rialdo Akbara
KINCIR ANGIN
LATAR BELAKANG ANGIN
Angin adalah proses alam yang berlaku secara skala kecil dan
skala besar, secara lingkup daerah dan dunia. Di lapisan atmosfir bawah udara
dingin mengalir dari daerah kutub menuju daerah khatulistiwa dan di lapisan
atmosfir atas udara hangat mengalir dari khatuistiwa menuju daerah kutub.
Angin merupakan suatu energi alam yang berlimpah adanya di
bumi yang juga merupakan energi yang murah serta tak pernah habis. Energi angin
telah lama dikenal dan dimanfaatkan oleh manusia. Adapun pemanfaatannya adalah
antara lain :
1. Pemompaan air untuk keperluan rumah
tangga dan pertanian.
2. Melaksanakan kegiatan pertanian,
seperti menggiling jagung, menggiling tepung, tebu.
3. Mengalirkan air laut untuk pembuatan
garam.
4. Membangkitkan tenaga listrik khususnya
untuk Pembangkit Listrik Tenaga Angin terutama untuk daerah yang belum
terjangkau oleh PLN.
MEKANISME TURBIN ANGIN
Sebuah pembangkit listrik tenaga angin dapat dibuat dengan
menggabungkan beberapa turbin angin sehingga menghasilkan listrik ke unit
penyalur listrik. Listrik dialirkan melalui kabel transmisi dan didistribusikan
ke rumah-rumah, kantor, sekolah, dan sebagainya.
Turbin angin dapat memiliki tiga buah bilah turbin. Jenis
lain yang umum adalah jenis turbin dua bilah. Turbin angin bekerja sebagai
kebalikan dari kipas angin. Bukannya menggunakan listrik untuk membuat angin,
seperti pada kipas angin, turbin angin menggunakan angin untuk membuat listrik.
Angin akan memutar sudut turbin, kemudian memutar sebuah
poros yang dihubungkan dengan generator, lalu menghasilkan listrik. Turbin
untuk pemakaian umum berukuran 50-750 kilowatt. Sebuah turbin kecil, kapasitas
50 kilowatt, digunakan untuk perumahan, piringan parabola, atau pemompaan air.
JENIS TURBIN ANGIN
Dalam perkembangannya, turbin angin dibagi menjadi jenis
turbin angin propeler dan turbin angin Darrieus. Kedua jenis turbin inilah yang
kini memperoleh perhatian besar untuk dikembangkan. Pemanfaatannya yang umum
sekarang sudah digunakan adalah untuk memompa air dan pembangkit tenaga
listrik.
Turbin angin propeler adalah jenis turbin angin dengan
poros horizontal seperti baling- baling pesawat terbang pada umumnya. Turbin
angin ini harus diarahkan sesuai dengan arah angin yang paling tinggi
kecepatannya.
Kecepatan angin diukur dengan alat yang disebut anemometer.
Anemometer jenis mangkok adalah yang paling banyak digunakan. Anemometer
mangkok mempunyai sumbu vertikal dan tiga buah mangkok yang berfungsi menangkap
angin.
Jumlah putaran per menit dari poros anemometer dihitung
secara elektronik. Biasanya, anemometer dilengkapi dengan sudut angin untuk
mendeteksi arah angin. Jenis anemometer lain adalah anemometer ultrasonik atau
jenis laser yang mendeteksi perbedaan fase dari suara atau cahaya koheren yang
dipantulkan dari molekul-molekul udara.
Turbin angin Darrieus merupakan suatu sistem konversi energi angin
yang digolongkan dalam jenis turbin angin berporos tegak. Turbin angin ini
pertama kali ditemukan oleh G.J.M. Darrieus tahun 1920. Keuntungan dari turbin
angin jenis Darrieus adalah tidak memerlukan mekanisme orientasi pada arah
angin (tidak perlu mendeteksi arah angin yang paling tinggi kecepatannya)
seperti pada turbin angin propeler.
ALAT PENGUKUR KECEPATAN ANGIN
Dalam mengetahui seberapa besar kecepatan hembusan suatu
angin maka perlu suatu alat/parameter pengukur kecepatan angin itu. Alat yang
sering digunakan dalam mengukur kecepatan angin biasa disebut anemometer.
Adapun jenis daripada alat pengukuran kecepatan angin
(anemometer) adalah :
a.
Anemometer jinjingan
Anemometer jinjingan adalah alat ukur kecepatan angin yang
cara kerjanya berdasarkan tekanan dinamik ( . ƒÏ.V2 ). Tetapi alat ukur ini
kurang teliti dalam pembacaan.
b.
Anemometer setengah bola
Anemometer setengah bola adalah alat ukur kecepatan angin
dengan menggunakan kincir setengah bola. Dimana mangkok setengah bola ini akan
berfungsi untuk menangkap angin sehingga dapat menggerakkan kincir dan seberapa
besar kecepatan angin itu dapat dilihat dari kecepatan putaran kincir.
c.
Anemometer propeller
Anemometer propeller adalah alat ukur kecepatan angin
dengan menggunakan kincir model pesawat kecil, mengikuti arah angin dan
propeller yang mengukur kecepatan arah angin itu.
SEJARAH KINCIR ANGIN
Sejarah perkembangan pembangkit angin dengan kincir angin
dapat diuraikan disini :
1.
Sekitar tahun 1890 Negara Denmark sudah mulai memanfaatkan tenaga
untuk memompa air maupun membangkitkan tenaga listrik guna mmenuhi kebutuhan
industri susu yang terletak terpencar dan yang semakin berkembang khususnya
didaerah yang tidak tersedia bahan bakar lokal. Dalam periode 1890-1945
produksi kincir angin kebanyakan berkapasitas 5 KW meskipun ada beberapa yang
berkapasitas lebih besar.
2.
Dengan berakhirnya Perang Dunia II, kebutuhan akan tersedianya
tenaga listrik diperkirakan akan meningkat, sedangkan persediaan bahan bakar
fosil tidak mencukupi sehingga di beberapa Negara Eropa mulai memikirkam untuk
memanfaatkan sumber energi pengganti lain termasuk sumber energi angin dan
prototype yang telah diproduksi berkapasitas 100 KW.
3.
Sejak tahun 1958 penelitian mengenai tenaga angin mulai
ditinggalkan karena berkembangnya teknologi tenaga nuklir yang nampaknya
mempunyai prospek yang lebih baik, serta telah stabilnya penyediaan bahan bakar
konvensional yang harganya relatif lebih murah dan mungkin besarnya ukuran unit
pembangkit listrik tenaga termis yang ternyata lebih menguntungkan.
4.
Sejak melandanya krisis energi tahun 1973 pada saat harga bahan
bakar minyak mulai melonjak dan pada saat bersamaan masyarakat di negara-negara
maju mulai memberikan tanggapan negatif pada pembangunan pembangkit-pembangkit
listrik tenaga nuklir khususnya mengenai hal bahaya pencemaran lingkungan maka
sejak itu energi angin mulai mendapat perhatian lagi dalam perkembangannya.
5.
Di Indonesia, tenaga angin telah dikembangkan pemanfaatannya sejak
tahun 1979 yang dimulai dengan penelitian-penelitian dan pengukuran data angin
serta konsep-konsep teknologi sesuai dengan kondisi dan energi angin yang
tersedia di Indonesia.
Perencanaan Kincir Angin
Untuk perencanaan kincir angin diperlukan data sebagai
berikut:
1. Survei data angin
2. Lokasi kincir yang baik
3. Rumus energi angin yang baik
4. Perencanaan
MACAM KINCIR ANGIN
1. Kincir Angin Darrieus
Kincir angin darrieus diciptakan pada tahun 1920 oleh G.J.M.
Darrieus dari Perancis. Kincir angin ini terdiri dari sudu-sudu berpenampang
airfoil (seperti bentuk pesawat terbang), dengan jumlah sudu satu pasang, dua
pasang, atau lebih. Dimana gaya dorong untuk memutar rotor adalah dari
kombinasi gaya-gaya aerodinamika yang terjadi pada sudut-sudut kincir tersebut.
Adapun keuntungannya :
1. Tidak
perlu pengaturan sudut-sudut untuk menggerakan sebuah generator.
2. Tidak
memerlukan suatu orientasi karena berporos vertikal.
Adapun kerugiannya :
1.
Beroperasi pada putaran rendah.
2. Tidak
dapat start sendiri.
3.
Efisiensi aerodinamika rendah.
2. Kincir Angin Savonius
Kincir angin savonius merupakan kincir angin berporos
vertikal yang telah dikenal sejak tahun 1925. Dalam beberapa hal tertentu
kincir angin savonius mempunyai beberapa kelebihan dibandingkan dengan jenis
kincir angin yang lain, misalnya :
1.
Konstruksi sederhana, sehingga mudah dibuat.
2.
Bahan bakunya mudah didapat.
3.
Tidak memerlukan keahlian khusus dalam pembuatan.
4.
Biaya investasinya dan operasinya atau pemeliharaannya murah.
Pada umumnya sudut kincir angin savonius umumnya berbentuk
huruf “S”, yang terdiri dari dua, tiga atau lebih. Masalah utama dari kincir
angin savonius dan juga kincir angin poros vertikal lainnya adalah pada
sudutnya kembali ia menentang aliran udara dan ini merupakan suatu kerugian
yang besar. Untuk mengatasi adanya kerugian besar diatasi dengan membuat sudut
berbentuk traveling down seluas-luasnya dan traveling up wind sekecil-kecilnya.
3. Kincir Angin Giromill
Kincir angin giromill mempunyai prinsip kerja hampir sama
dengan kincir angin darrieus dengan perbedaan pada kincir angin giromill bentuk
sudutnya lurus dan dipasang vertikal dengan sudut variable Pitch dan tidak
memerlukan kecepatan awal.
Karena bentuk sudutnya lurus maka pembuatannya mudah dan
murah. Tetapi kelemahannya adalah menpunyai perbandingan putaran yang rendah
dan energi yang diekstesikan kecil.
Keuntungan dari kincir angin giromill :
1. Dapat
melakukan start sendiri.
2.
Efisiensi aerodinamika lebih tinggi dari rotor darrieus.
3. Sudut
rotor yang lurus mudah dibuat.
4. Kincir Angin Propeller.
Kincir angin propeller merupakan kincir angin yang
konvensional dimana suatu putaran searah dengan arah angin dengan jumlah sudut
dua, tiga ataupun lebih yang berpenampang airfoil. Dimana perputaran kincir
angin ini disebabkan adanya gaya aerodinamika yang bekerja pada suatu kincir
angin. Agar propeller dapat berputar maka letak bidang rotasinya harus tegak
lurus dengan arah angin. Dan untuk maksud ini dapat digunakan tipe up wind dan
down wind.
Kelebihan jenis Up Wind :
1.
Konstruksi lebih sederhana.
2.
Karakteristik aerodinamis angin tidak terganggu karena arah angin langsung
menuju rotor.
3. Untuk
variable pitch start lebih ringan.
4. Tidak
memerlukan sudut orientasi.
Kerugian jenis Up Wind :
1. Jarak
rotor ke sumbu menara harus jauh, hal ini akan memungkinkan terjadi pelenturan
poros karena beban rotor yang terlalu
berat.
2.
Memerlukan ekor pengarah.
3.
Kapasitas turbin umumnya kecil, hal ini karena jari-jari sudut yang bisa
dipasang ukurannya kecil, bila besar memungkinkan terjadi defleksi sudut.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar